23 October 2008

toko online




Daftar harga dari kiri atas :
KET KODE HARGA
(1) (2)
1. PINK01 --SMB SLM -- ( - 27,500,-)
2. KUNING02 --KRW-BGA -- (17,500 DAN 20,000)
3. KUNING03 --BND-APL -- (20,000 DAN 22,500)
4. PINK04 --STR-MRS -- (15,000 DAN 17,500)
5. MERAH05 --SMB-MRS -- ( - 25,000)
6. BIRU06 --KRT-BGA -- (20,000 DAN 22,500)

GAMBAR KE-2 DARI KIRI ATAS
HARGA
(1) (2)
1. COKLAT01 -- TPI-PTA -- KOSONG
2. BIRU02 -- PLG-BND -- ( 17,500 DAN 20,000)
3. UNGU03 --PTA-2 -- (12,500 DAN 15,000)
4. MERAH04 --KRW -- (17,500 DAN 20,000)
5. PINK05 --LKS-MRS -- KOSONG

TERSEDIA DALAM UKURAN
NO. 1 UNTUK 0-1 TAHUN
NO. 2 UNTUK 1-4 TAHUN
NO. 3 UNTUK 4-6 TAHUN
NO. 4 UNTUK 6-12 TAHUN

STOCK WARNA : PINK, ROSE, MERAH CABAI, MARUN, ORANGE, PUTIH, BITU BABY, KUNING BABY, KUNING KENARI, UNGU, COKLAT SUSU, KREM, HIJAU MUDA

jilbab tiva...
bahan katun yang berkualitas
harga mulai dari Rp, 15,000,00
order to 021-95220400
or email me at

21 October 2008

jilbab anak



coming soon....
Haiii.... bagi para bunda akan segera dibuka....
toko online jilbab anak yang lucu dengan kualitas terjamin
Kami Menghadirkan Koleksi Kerudung khusus Anak dengan bahan Kaos yang Nyaman, Model yang cantik, Bahan berkualitas.
Tersedia Ukuran Mulai Anak Umur 0-1 tahun sampai anak umur 12 tah

bagi yang berminat / tertarik silahkan hubungi :
021-95220400 atau
email ke seka_hs_08@yahoo.cpm
ditunggu pesananya yah...

19 October 2008

mengasah diri melalui pasangan

Posted by Herry @ 20:01 | in Artikel, Tanya Jawab, Renungan, Kolom | e-mail this article | + to del.icio.us

PERNIKAHAN : MENGASAH DIRI MELALUI PASANGAN


Oleh Herry Mardian

KUTIPAN dari sebuah diskusi via e-mail antara saya dan Ilham*… mail ’sumber persoalannya’ saya edit biar nggak terlalu panjang. Oh ya, tulisan ini bukan curhatannya Ilham. Tapi tulisan ini kami terima via e-mail, dan kami jadi mendiskusikan pernikahan dan cinta.

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.

[Ilham]

Dari tulisan di atas yang saya baca, saya jadi punya pertanyaan, Her:

“Apakah ‘mencinta’? Mencintai cara kita mencintai, atau mencintai dirinya?”

[Herry]

Ham, apakah ada sebuah kebahagiaan yang sempurna, bulat? Seratus persen? Tidak ada. Setidaknya, tidak dalam kehidupan kita yang sekarang. Mengharapkan sebuah perkawinan yang bahagia, sempurna, total, bulat seratus persen bahagia,.. dream on. Not in this life. If you do, then you sucks. Loser. Try to get sober. Wake up. Hang on, get a grip. Whatever.

Tapi perkawinan yang –relatif– bahagia, bisa jadi ada. Walaupun jarang. Berapa lama kita bisa tampil sempurna di hadapan pasangan? Sesuai standar kesempurnaan yang dia harapkan? Nggak mungkin, karena standar kesempurnaan tiap orang pun terus berubah. Honeymoon –will– be over no matter what. But at least, we hope that the biggest portion of our marriage is happines. Itu –relatif–, bukan sempurna.

Mencintai itu ‘memberi’. Tanpa mengharapkan apapun. Seperti matahari yang memberikan sinarnya, atau pohon yang memberikan buah dan manfaatnya tanpa mengharapkan balasan apa-apa hingga dia menjadi layu dan mati. Seperti laut yang terus memberikan mutiara biarpun bilyunan ton sampah dibuang kemukanya setiap hari.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.

(Sapardi Djoko Damono)

Itu level mencintai Ilahiyah. Divine Love. Sejak manusia pertama hingga sekarang, hanya beberapa gelintir manusia yang mempu mencintai seperti itu. Bahkan seorang ibu pun mengharapkan balasan dari anak-anaknya, apakah itu berupa perhatian, bakti, kesopanan maupun tanda terima kasih. Bahkan istri-istri nabi pun cemburu, mengharapkan sesuatu yang ‘lebih’ dari suaminya untuk dirinya, dan membuat lelah dan murung Sang Rasul hingga harus turun wahyu untuk menghibur Beliau saw.

Think: if you were accidentally burnt from head to toe, you become really ugly and disgusting, can’t work anymore, paralyzed… all money’s gone for medication.. will your spouse still love you –’as you are’– ? Apakah kata-kata indah saling mencintai dan menyayangi masih bertaburan? Saya benar-benar berharap, semoga masih, demi Allah. Semoga. Jika demikian maka itu pasangan sejatimu, dan doakan semoga Allah membalasnya dengan cinta-Nya yang sejati, karena engkau telah sepenuhnya ridha pada pasanganmu. Jika demikian maka ia lebih layak untuk Dia daripada untukmu. Serahkan pada-Nya. Berikan kekasihmu untuk-Nya sebagai persembahan tertinggimu kepada-Nya.

Tapi, kalau ternyata tidak, who will love you then?

Cinta sempurna, hanya bisa diraih dan didapatkan dari sosok yang Maha Sempurna. Itulah yang dicari para pejalan ruhani sejati: menginginkan dicintai dan mencintai secara sempurna, oleh dan untuk Yang Maha Sempurna Cintanya.

Lalu untuk apa menikah? Justru itu. Kalau menikah hanya untuk mengejar cinta (psikologis), ia akan habis suatu saat. Apalagi kalo cuma mengejar ketampanan dan kecantikan, harta dan status. Then you will spent the rest of your life, sharing your bed and giving your body to someone that you know he/she ‘just doesn’t have it anymore’. Deep in your heart, you will sigh every second. Helpless. Trapped in your life, breathing in something you don’t like, in every single moment for the rest of your life. You –lose–.

Cinta memang sebuah perasaan yang dahsyat, sering membuat lupa diri, dan sangat jarang orang yang tidak ‘mabuk’ dan mampu menguasai rasionalitasnya ketika dihantam cinta. Tentu saja, karena cinta adalah proyeksi terendah dari asma ‘Ar-Rahiim’, sesuatu milik Yang Maha Agung. Proyeksi terkecilnya saja, bahkan dalam level cinta fisikal dan mental, sudah sedemikian dahsyat efeknya kepada makhluk. Hidup jadi indah, inspirasi mengalir, dan karya-karya raksasa dan monumental akan lahir dari tangan kita karena proyeksi terkecil asma Ilahiyah itu. We become drunk, and try everything we can to not get sober. Not now. No way. Apalagi ketika Allah percaya pada pengabdian kita, dan berkenan menugaskan malaikat untuk menyematkan asma ‘Ar-Rahim’-Nya, yang ‘asli’ dan bukan proyeksi, di dada jiwa kita. Kayak apa dahsyatnya.

Nah, para pejalan ruhani (sufi yang beneran, bukan ngaku sufi atau baru baca beberapa buku sufi macam saya ini) menempatkan pernikahan sebagai kerangka untuk belajar, tangga untuk meraih cinta sejati ini. That Divine Love. To love and be loved, divinely. Perfectly. Sejak awal, paradigmanya beda: baik si pria atau si wanita, sepenuhnya memahami dan mau menerima ketidaksempurnaan pasangannya. Di dalam hati akadnya justru itu: ‘pasangan saya akan ada buruknya, but yet i’m marrying him/her‘.

Ituah sebabnya, kata rasul, bumi dan langit, dan para penghuni langit berguncang, bergetar ketika ada pasangan manusia yang mengucap akad nikah, sumpah nikah mereka. Karena pada hakikatnya mereka berdua bersumpah di hadapan seluruh keagungan majelis Allah ta’ala untuk bersama-sama melangkah memasuki sebuah ‘keberserahdirian’: mereka tidak tahu akan mengalami apa di dalam sana. Proudly (or foolishly) stepping one’s foot into the realm of absolute unknown.

Sumpah ini adalah sumpah kedua terberat setelah sumpah eternal jiwa manusia di Qur’an [7]:172. Bumi dan langit tidak habis pikir dan ngeri: kok berani-beraninya ngambil SKS seberat itu, padahal nanti mereka akan dihakimi Allah ta’ala langsung. Kuliah pertama [7]:172 nya saja belum lulus. Padahal yang mengucapkan sumpah itu ketawa-ketiwi setelahnya, mendengarkan khutbah nikah orang KUA yang nyerempet-nyerempet jorok dan porno (sial, peristiwa sakral kok ngelawak jorok). Bumi sebenarnya udah mau geleng-geleng kepala, tapi teringat bahwa kalau ia geleng-geleng maka seluruh penghuni bumi kiamat dilanda gempa. Makanya semakin ada orang nikah, maka bumi semakin sabar, belajar menahan dirinya untuk tidak geleng-geleng kepala, hehe..
into the unknown

Kembali ke laptop.

Makanya, beragama lewat pernikahan itu lebih berat daripada selibat. Kata Rumi, “kalau engkau termasuk manusia pemberani, maka tempuhlah jalan Muhammad (yaitu menikah dan membersihkan diri lewat pasangan). Tapi kalau tidak, maka setidaknya tempuhlah jalan Isa.”

Justru tujuan pernikahan bagi mereka (para penempuh jalan spiritual sejati) masing-masing lelaki dan wanitanya adalah ‘menggunakan’ ketidaksempurnaan pasangannya itu untuk membersihkan jiwanya sendiri. Dia mengamplas hatinya lewat pasangannya, demi meraih Cinta Sempurna (C dan S nya kapital) untuk diri dan pasangan mereka, karena masing-masing diri mereka menyadari bahwa cinta mereka untuk pasangannya bukanlah cinta yang tertinggi.

Socrates paham sepenuhnya hal ini. Ia, sebagai seorang pencari kebenaran hakiki (sufi sejati juga kali?) justru mencari wanita berperangai paling buruk di Athena untuk ia nikahi. Ia ingin mengasah kebijaksanaan dan kesabarannya lewat istrinya. Kata-kata beliau yang terkenal setelah menikah: “By all means, get married! If you get a good spouse you’ll be happy. If you get a bad one, you’ll become a philosopher. You have nothing to lose.” Lucu sih. Tapi dalem.

Ini dari kitabnya Rumi, Fihi Ma Fihi diskursus #20, terjemahan monsiour Herr Mann Soetomo, tentang pernikahan sebagai jalan Muhammad:

Siang dan malam engkau senantiasa berperang, berupaya mengubah akhlak dari lawan-jenismu, untuk membersihkan ketidak-sucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Lebih baik mensucikan dirimu-sendiri melalui mereka daripada mencoba mensucikan mereka melalui dirimu-sendiri. Ubahlah dirimu-sendiri melalui mereka. Temuilah mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut-pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak-adil.

Pada hakikat dari persoalan ini lah, Muhammad S.A.W. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam.” Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, lelaki hidup tanpa perempuan dan berpaling dari dunia. Allah menunjukkan jalan yang lurus dan tersembunyi kepada Sang Nabi. Jalan apakah itu? Pernikahan, agar kita dapat menanggung ujian kehidupan bersama dengan lawan-jenis, mendengarkan tuntutan-tuntutan mereka, agar mereka memperlakukan kita dengan keras, dan dengan cara demikian memperhalus akhlak kita.

Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidak-murnianmu kepada mereka. Akhlakmu menjadi baik melalui kesabaran; sementara akhlak mereka menjadi buruk melalui pendominasian dan agresi mereka. Jika engkau telah menyadari tentang ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka itu bagaikan pakaian; di dalamnya engkau dapat membersihkan ketidak-murnianmu dan engkau sendiri menjadi bersih.

Singkirkan dari dirimu kebanggaan, iri dan dengki, sampai engkau alami kesenangan dalam perjuangan dan penderitaanmu. Melalui tuntutan-tuntutan mereka, temukanlah kegembiraan ruhaniah. Setelah itu, engkau akan tahan terhadap penderitaan semacam itu, dan engkau tidak akan berlalu dari penindasan, karena engkau melihat keuntungan yang mereka berikan.

Diriwayatkan bahwa suatu malam Nabi Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya kembali dari suatu ekspedisi. Belian menyuruh mereka memukul genderang, seraya berkata: “Kita akan berkemah di gerbang kota, dan memasukinya esok-hari.” Mereka bertanya: “Wahai Rasul Allah, mengapa kita tidak langsung saja kembali ke rumah masing-masing?” Beliau S.A.W. menjawab: “Bisa jadi engkau akan menemui istrimu di ranjang bersama lelaki lain. Engkau akan terluka, dan kegaduhan akan timbul.” Salah seorang sahabat tidak mendengar ini, dia masuk ke kota, dan mendapati istrinya bersama dengan orang lain.

Jalan dari Sang Nabi adalah seperti ini: Menanggung kesedihan itu perlu untuk membantu kita membuang egoisme, kecemburuan dan kebanggaan. Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidak-adilan, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terbatas, agar jalan ruhaniah dapat menjadi jelas.

Jalan dari Nabi Isa a.s. adalah bergulat dengan kesepian dan tidak meladeni syahwat. Jalan Muhammad S.A.W. adalah dengan menanggung penindasan dan kesakitan yang ditimbulkan oleh lelaki dan perempuan satu sama lain. Jika engkau tidak dapat menempuh jalan Muhammad, setidaknya tempuhlah jalan Isa, sehingga dengan demikian engkau tidak sepenuhnya berada di luar jalan ruhaniah. Jika engkau mempunyai ketenangan untuk menanggungkan seratus hantaman, dengan memandang buah dan panen yang lahir melalui mereka, atau jika engkau diam-diam meyakini di dalam kalbumu, “Walaupun saat ini aku tidak melihat hasil-panen dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan meraih harta-karun,” bahwa engkau akan meraih harta-karun, itu benar adanya; dan yang jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan yang pernah engkau inginkan dan harapankan.

Jadi, justru di jalan Muhammad orang yang mau menikah seharusnya sepenuhnya menyadari bahwa sifat-sifat pasangan yang ‘buruk’ itu akan menempa kita, demi menjadi bijak, bersih, matang, dan suci, untuk meraih cinta tertinggi bagi masing-masing pasangan. Ini bahagia atau tidak bahagia? Tergantung cara memandang ‘kebahagiaan’. Bahagia kelas permen atau bahagia kelas langit.

Di sisi lain, Rasul melarang menikah tanpa cinta, sekalipun itu paksaan orangtua sendiri. Cinta adalah landasannya pernikahan. Tapi para pejalan ini tahu, bahwa hanya ada dua kemungkinan arah cinta di awal pernikahan itu: cinta itu akan mati saja, atau cinta itu akan mati dan tertransformasi menjadi cinta yang lebih tinggi, dalam tiap tahapan pernikahan. Itu artinya menanggung tempaan secara teratur, selang seling senang dan martil.

Sekarang, kalau saya ditanya, memang mau menempuh pernikahan seperti itu? Berani? Sejujurnya, rasanya nggak lah. Ke’sufi’an (dalam tanda kutip) yang saya punya paling juga masih sebatas wacana. No way. Not way. Saya juga tentu mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan saya. Tapi pada saat yang sama, juga mengharapkan adanya transformasi. Agaknya kalau mau enak semuanya itu jawaban hawa nafsu saya saja.

Kalau merenungi landasan pernikahan kami lumayan membuat saya ‘berkeringat dingin’. Bukan mikirin malam pertama, tapi mikir landasan pernikahan kami. Udah benar belum ya, landasannya, niatnya, paradigmanya, harapannya? Kalo salah gimana? Apa yang terjadi nanti? Apakah langgeng, berantem, bercerai? Kaya, melarat? Nggak tau. Mutlak nggak tau.

Saya hanya berharap semoga Allah tidak pernah meninggalkan kami, dan mencukupi kebutuhan kami lahir dan batin, jasad dan jiwa. Semoga dari ketidaktahuan itu akan lahir sebuah Keberserahdirian yang mendatangkan rahmat.

Islam, aslama, berserah diri. Makanya kata Rasul, menikah adalah setengah diin, diinul-Islam, jalan keberserahdirian. Sebuah kebergantungan hati yang mutlak kepada Allah ta’ala, no matter how good we are. That sense is so hard to accomplish.

Semoga Allah menguatkan kami dalam penempaannya. Semoga Allah berkenan hadir mengunjungi kami dalam kebahagiaan-kebahagiaannya. Ya Rabb, please be gentle with me. This is my first. Actually, You are my first.

;)

Salaam,
–HerryMardian–

oups, tentang pernikahan baca juga tulisan ‘Rasa Cinta Yang Salah’. Siapa tau dapet insight.

(* Ilham D. Sannang, sahabat saya sejak tiga belas tahun lalu. Thanks a lot, ham!)

P. S. : Sebuah pepatah lucu Jerman:

Laki-laki paling pemberani adalah seorang suami yang pulang dari bar lewat tengah malam dalam keadaan mabuk. Ketika ia membuka pintu rumahnya, melihat istrinya membawa sapu untuk memukulinya, ia berkata, “Sayang, bawa-bawa sapu malam-malam begini di depan pintu, emang mau terbang kemana?”


Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

kisah penuh hikmah

Pendayung Sampan Dan Professor
Suatu hari seorang profesor menyewa sebuah sampan untuk membuat kajian di tengah lautan.Pendayung itu merupakan lelaki tua yang sangat pendiam. Profesor sengaja mengupah lelaki tua itu kerana dia tidak mahu orang yang menemaninya banyak menyoal tentang apa yang dia lakukan.

Dengan tekun Profesor itu melakukan tugasnya tanpa menghiraukan pendayung sampan. Dia mengambil air laut dan diisi kedalam tabung uji, digoncang-goncang, kemudian mencatat sesuatu di dalam buku catatan dibawanya. Berjam-jam lamanya Profesor itu melakukan kajian dengan tekun sekali. Pendayung sampan mendongak ke langit, memandang pada awan yang mula berarak kelabu. Dalam hati dia berkata "Hmm..tak lama hujan lebat akan turun.."

"OK semua sudah siap mari kita balik." Lantas pendayung itu memusingkan sampannya dan mula mendayung ke arah pantai. Dalam perjalanan itu baru Profesor itu membuka mulut menegur pendayung sampan.

"Dah lama kamu mendayung sampan?" Tanya Profesor kepada pendayung sampan. "Hmm..hampir seumur hidupku," jawab si pendayung ringkas.

"Seumur hidup kamu? Jadi kamu tidak tahu apa-apa selain mendayung sampan?" tanya Profesor itu lagi.

"Ya.."jawab pendayung sampan dengan ringkas.

Profesor belum berpuas hati dengan jawapan pendayung tua itu. "Kamu tahu Geografi?" Si pendayung menggeleng..

"Kalau begitu kamu hilang 25% dari usia hidup kamu."
"Kamu tahu Biologi?"tanya Profesor itu lagi. Pendayung sampan itu menggeleng lagi.

"Kasihan kamu telah kehilangan 50% dari usia kamu."

"Kamu tahu Fizik?" Profesor itu masih bertanya. Seperti tadi pendayung sampan itu hanya menggeleng.

"Sungguh kasihan kalau begitu kamu telah kehilangan 75% usia kamu.Malang sungguh nasib kamu semuanya tidak tahu. Seluruh hidup kamu hanya dihabiskan dengan sampan,tak ada gunanya lagi," Profesor itu mengejek dan berkata dengan angkuh setelah merasakan dirinya yang terhebat. Pendayung sampan hanya mendiamkan diri.

Selang beberapa minit kemudian hujan turun dengan lebat, tiba-tiba ombak besar datang melanda. Sampan yang mereka naiki terbalik. Profesor dan pendayung sampan terpelanting. Sempat pula pendayung itu bertanya, "Kamu tahu berenang?" Profesor hanya menggeleng.

"Sayang sekali kamu telah kehilangan 100% nyawa kamu." Kata pendayung itu sambil berenang ke pantai meninggalkan Profesor yang angkuh tadi.
posted by 5u|<0r3|\|4i at 6:50 AM

Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

16 October 2008

Hati-hati loh ngomongin pasangan

SmileyCentral.com
Temen-temen ada yang sudah menikah/sudah punya pasangan hidup?yup...ini dia tips mengenai rambu-rambu dalam membicarakan pasangan.

Kalau sudah bertemu teman, apalagi teman lama yang sudah sekian waktu tak berjumpa, kadang mulut kita tak bisa direm untuk bercerita perihal keluarga. Buntutnya, cerita pun merembet ke masalah pribadi kita dan pasangan.

Saat ngrumpi, sih, terasa enteng-enteng saja. Tapi setelah tiba di rumah, tak jarang timbul penyesalan, "Kok tadi aku gampang banget, ya, mengobral rahasia pada teman? Aduh, jangan-jangan nanti dia nyebarin cerita itu ke mana-mana!" Begitu, bukan, yang kerap terjadi?

Tentu sah-sah saja kita membicarakan masalah pribadi pada teman. Bagaimanapun, setiap orang butuh "curhat" alias curahan hati. Namun, seperti dikatakan Zamralita, S. Psi., kita harus tahu batas-batasnya. "Tak semua permasalahan layak untuk dibicarakan pada orang lain," ujar dosen di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta ini.

Jadi, kalau cuma soal pekerjaan, hobi, asal-muasal pasangan atau cara kita ketemu pasangan, menurut psikolog yang akrab dipanggil Lita ini, tak apa-apa diomongin dengan orang lain. Namun kalau masalahnya berkaitan dengan seksual, entah itu tentang kebiasaan pasangan dalam berhubungan maupun kekurangannya dan sebagainya, "Sungguh tak pantas dibicarakan kepada orang lain," tukas Lita.

Masalah yang juga tabu untuk "disebarluaskan" adalah soal keuangan. Misalnya, gaji kita lebih besar daripada suami. Begitu juga soal kebiasaan-kebiasaan buruk pasangan semisal jorok, pembohong, suka berjudi, dan lainnya. Selain itu,masa lalu yang buruk dari pasangan juga pantang dirumpiin. Pokoknya, tandas Lita, kalau sudah menyangkut hal pribadi pasangan, keluarga pasangan atau yang menyinggung harga dirinya, "Sebaiknya kita harus mengerem mulut. Apalagi kalau kita 'mengumbar' cerita tersebut dengan maksud mentertawakan atau menjelekkan pasangan."

Namun bukan berarti kita tak boleh sama sekali membicarakan hal-hal sensitif tersebut. Yang penting, kata Lita, harus ada tujuannya. "Kalau hanya sekadar mengumbar cerita, buat apa? Enggak ada gunanya, kan?" Lain halnya bila kita bertujuan mencari solusi, melengkapi informasi atau untuk meyakinkan diri. Misalnya, "Apakah yang dilakukan suamiku itu juga dilakukan pula oleh suami yang lain?" Atau, "Bagaimana, sih, cara mengatur uang belanja dengan bijak."

Juga jika tujuannya adalah untuk menolong teman. Misalnya, si teman minta saran atas masalahnya. Nah, bolehlah kita membeberkan pengalaman pribadi, walaupun permasalahannya itu sensitif. Sebab, kita menceritakan hal itu bukan dalam arti negatif, tapi untuk memberi solusi pada si teman.

Yang juga harus diperhatikan ialah siapa orang yang diajak bicara. Jangan sampai si teman ternyata bermulut "ember" alias gemar menyebar-luaskan rahasia orang. Sehingga begitu kita ada apa-apa dengan pasangan, orang langsung akan menduga, "Wah, pasti gara-garanya hal itu, deh, sehingga mereka sampai retak." Padahal, belum tentu juga, kan? Karena itu, seperti disarankan Lita, "Pilih teman yang benar-benar bisa dipercaya, yang tak bakal membocorkan rahasia kita. Juga yang sekiranya bisa memberikan solusi atau jalan keluar dari masalah kita."

Indah Mulatsih

my baby





ujian

sesaat terenungkan
fikir ini terasa berat
ego ini luluhkan semua harap
seakan tak mampu berputar
otak yang menjadi tumpuan pemikiranku


tersirat dalam diri
kepiluan yang pasti
seakan belum terlukis
masa depan kehidupan dunia


padahal
hanya otak yang tak berputar
tak jua menemukan sesuatu yang cemerlang
bagai nahkoda kapal yang terombang ombak
arah seakan kian tak tentu

kala begini
hanya sang Penguasa Alam semesta lah yang menjadi tumpuan
berserah memohon petunjuk
agar sang nahkoda menemukan jalan keluar
Amiinn...
:-(

07 October 2008

mau cantik alami?

tampil cantik sambil berbisnis?
ups.... bisa koq...
klik disini yah

05 October 2008

menjadi jutawan dari rumah

karena artikelnya bagus dan berisi tips2 bisnis maka tidak ada salahnya jika saya posting ulang dari majalah kompas.
Menjadi Jutawan dari Rumah
Jumat, 26 September 2008 | 13:10 WIB

PUNYA kebisaan menjahit, memasak, atau mengutak-atik sesuatu menjadi lebih indah dan bermanfaat? Jangan hanya dipendam sendiri. Anda bisa mengail uang darinya.

Pilihan menjadi pebisnis sepertinya kian menggiurkan dan banyak dilirik. Enggak heran, setiap hari ada saja tempat usaha baru yang buka. Juga di setiap pameran yang dikunjungi, banyak pemain baru dari usaha home made bermunculan. Usaha yang dikembangkan sangat variatif dan komplet, dari ujung rambut sampai ujung kaki, dari urusan perut sampai tempat tidur.

Perlukah bakat? Ah, bakat menjadi urutan ke sekian. Tak punya keterampilan khusus? Anda bisa belajar di tempat-tempat kursus yang makin menjamur. Atau, belajar saja dari buku-buku keterampilan yang banyak beredar. Mudah kok diikuti. Anda tertarik? Ikuti langkah-langkahnya.

Dari Mana Memulainya?
Anda sudah punya keinginan untuk membuka usaha, tapi bingung dengan pilihannya? Pasalnya, usaha home made sangat banyak dan variatif, bisa kue, seprei dan bed cover, lilin, kotak, aromaterapi, keramik, bingkai foto, dan sebagainya. Bagaimana menentukan yang paling cocok untuk Anda? Pilih yang benar-benar diminati dan Anda menikmatinya.

Kemudian, inventarisasi modal apa yang sudah Anda punya. Modal enggak melulu harus berupa uang lho, tapi aset yang dimiliki. Misal, keterampilan yang Anda kuasai atau aset-aset pribadi lainnya. Seperti yang dilakukan oleh Mita, pemilik Bingkai Kota Kayu dan Belleza dari Kertas-Kertaz. Jika Mita memanfaatkan kayu-kayu bekas milik orangtuanya menjadi bingkai foto, Belleza membuat kertas-kertas milik saudaranya yang tidak terpakai menjadi kotak cantik yang mendulang uang.

Setelah itu, tentukan modal. Untuk tahap awal, sebaiknya modal jangan terlalu besar. Gunakan modal sendiri dulu, jangan melibatkan pihak lain. Lain halnya jika usaha yang dijalankan cukup lama dan Anda bermaksud mengembangkannya. Jika faktanya seperti itu, kredit di bank layak dipertimbangkan.

Berapa yang dibutuhkan? Tergantung jenis usahanya. Kalau kecil-kecilan, dengan uang di bawah Rp 500.000 pun Anda sudah bisa mulai. Sebagai gambaran, modal awal Mita untuk usaha frame-nya beberapa tahun lalu hanya Rp 500.000. Uang itu digunakan untuk beli kompresor, kaca, cat, dan sebagainya. Sementara itu, Belleza usahanya dimulai dengan modal Rp 1 juta. Relatif kecil kan? Tapi jangan ditanya keuntungannya sekarang karena meningkat puluhan kali lipat dari modal awal.

Setelah itu, tentukan siapa yang mengerjakan. Untuk menekan biaya, sebaiknya jangan banyak memakai tenaga bayaran. Manfaatkan keluarga untuk membantu Anda. Sedangkan untuk mencari bahan baku, jangan segan keluar masuk pasar tradisional karena biasanya harga murah justru datang dari sana. Belilah secara grosir atau dalam jumlah banyak karena harganya jauh lebih murah daripada membeli eceran.


Tentukan Harga
Langkah selanjutnya menentukan harga. Masalah harga cukup krusial karena berkaitan dengan keuntungan dan kelangsungan usaha ke depan. Untuk harga, sebaiknya jangan mematok harga terlalu tinggi sehingga membuat pelanggan mengangkat alis karena kemahalan. Atau sebaliknya, jangan juga terlalu murah sehingga terkesan murahan. Hitung dulu ongkos produksinya, dari mulai harga bahan baku, upah tukang (kalau ada) dan transport serta akomadasi (sewa tempat). Setelah itu, baru tentukan harga jualnya.

Untuk menetukan harga jual, naikkan sekitar 25-30 persen dari harga produksi. Ini bukan harga mati, lho. Karena harga bisa berubah dengan kondisi-kondisi tertentu, seperti proses tawar menawar atau berdasarkan jumlah barang yang dibeli. Penjual yang disenangi biasanya yang bisa memberi harga fleksibel alias bisa ditawar.


Dari Mulut ke Mulut
Bila harga sudah ditentukan, tinggal mencari cara bagaimana memasarkan produk tersebut. Disarankan, jangan buru-buru membuka toko atau sewa outlet. Selain biayanya besar, belum tentu efektif menggaet customer. Manfaatkan saja apa yang sudah ada. Bila garasi bisa dijadikan galeri, kenapa enggak dimanfaatkan. Anda bisa menyulapnya menjadi tempat yang layak untuk jualan.

Tapi yang terbilang efektif adalah pemasaran dari mulut ke mulut. Mulai saja dari yang terdekat, keluarga, teman, dan seterusnya. Bertemanlah sebanyak-banyaknya. Pada harga dan kualitas yang sama, orang membeli dari temannya. Pada harga yang sedikit mahal, orang akan tetap membeli dari temannya.

Tak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun Anda bisa menjalin pertemanan. Ikut milis sangat disarankan. Selalu cantumkan brand dan alamat serta nomor kontak yang bisa dihubungi di setiap kemasan produk. Ini untuk memudahkan calon pembeli menghubungi Anda.

Cara lain, Anda bisa mendatangi kantor-kantor atau menitip jual di toko atau galeri. Biasanya sistem yang diterapkan konsinyasi. Anda sudah menentukan harga, dan mereka me-mark-up-nya sendiri. Pembayaran dilakukan di bulan berikut. Rajin ikut pameran atau bazaar juga meluaskan pasar.

Untuk satu ini, sebaiknya pilih-pilih tempat. Sebab, faktor penting dalam sukses bisnis adalah lokasi, lokasi, dan lokasi. Tanya pada mereka yang sudah pernah mengikuti, apakah pameran sebelumnya dipadati pengunjung atau tidak. Cari juga yang harga sewanya tidak terlalu mahal. Rata-rata harga sewa stand di pameran lebih dari Rp 500.000.

Jangan lupa, lakukan dengan penuh ketekunan, dan gali terus ide-ide baru. Juga, jangan mudah menyerah bila menemui kegagalan. Memulai usaha memang berisiko. Tapi tidak memulai usaha akan lebih berisiko.

Siapkah jadi pebisnis?


Siapkah Jadi Pebisnis?
Jumat, 3 Oktober 2008 | 15:58 WIB

Ingin tetap punya waktu untuk keluarga sering jadi alasan banyak wanita karir untuk banting setir sebagai pengusaha. Tapi siapkah Anda berkompetisi? Jennifer Kushell, pengusaha dan penulis buku Secret of the Young & Successful, membagi tipsnya agar bisnis Anda tetap bertahan dan terus tumbuh.

1. Wajib suka
Apa pun jenis bisnis Anda, pertama-tama Anda harus menyukainya agar Anda yakin pada produk atau jasa yang ditawarkan. Misalnya saja untuk membuka bisnis restoran, sebaiknya Anda adalah orang yang menyukai kegiatan berburu makanan dan menggali resep untuk menambah cita rasa makanan.

2. Lakukan tes produk
Kelihatannya sepele, tapi tak sedikit enterpreneur yang tidak melakukan tes pasar. Misalnya saja jika Anda ingin berbisnis kue-kue kering, cobalah untuk membagikan sampel gratis kepada orang-orang di sekitar Anda agar Anda bisa mendapat masukan sekaligus mengetahui apakah produk Anda layak jual.

3. Minta bantuan
Jangan segan minta bantuan orang untuk memasarkan produk, misalnya saja menitipkan barang saat pameran. Ingatlah bahwa promosi dan kesuksesan bisnis sangat berkaitan erat.

4. Siapkan dana cadangan
Tidak semua bisnis langsung menuai untung. Misalnya saja bisnis spa yang membutuhkan waktu 3-4 tahun sebelum break event point (balik modal). Karena itu persiapkan dana cadangan.

5. Pilih lokasi
Lokasi yang mudah dijangkau dan nyaman masih jadi pertimbangan banyak orang untuk datang ke tempat Anda. Karena itu lokasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam sebuah bisnis.

Welcome

welcome in my blog.. :-))